Muhammad Aldi Rahman
Program Studi S1 Farmasi
STIKES BORNEO LESTARI
aldi.albadres@gmail.com
PENDAHULUAN
Tahukah kamu apa itu Pendidikan
seks yang dimaksud adalah pendidikan seks untuk anak usia dini meliputi
mengenali anggota tubuh dan fungsinya, memahami tentang berharganya tubuh
mereka sendiri dan mengetahui serta dapat melindungi anggota tubuhnya dari
kemungkinan ancaman kekerasan seksual, Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting dalam
menentukan kemajuan suatu bangsa. Kualitas pendidikan yang baik akan mampu
menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas, terlebih pada era
globalisasi seperti sekarang, yang mana perkembangan teknologi dan informasi
sangat pesat. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan
berkualitas serta memiliki daya saing yang tinggi, maka pendidikan yang
diberikan kepada warganya harus dilaksanakan secara tepat dan maksimal. Sejalan
dengan pernyataan itu, pemerintah dan semua pihak yang terlibat dalam dunia
pendidikan sebaiknya lebih peka dan tanggap terhadap perkembangan yang terjadi
di masyarakat. Pendidikan hendaknya berorientasi dan dilaksanakan demi
pengembangan anak didik dalam rangka memelihara dan meningkatkan martabat
manusia dan budayanya (Suparno, dkk, 2002)
Mengapa Pendidikan Seks Penting?
Maraknya kasus
kekerasan seksual yang terjadi belakangan ini tidak lagi hanya mengancam para
remaja yang rentan terhadap informasi yang salah mengenai seks. Eksploitasi
seks pada anak dibawah umur nyatanya juga sering terjadi oleh orang-orang
terdekat yang bahkan dilakukan oleh keluarga korban sendiri. Meningkatnya kasus
kekerasan merupakan bukti nyata kurangnya pengetahuan anak mengenai pendidikan
seks yang seharusnya sudah mereka peroleh dari tahun pertama oleh orang tuanya.
Tetapi persepsi masyarakat mengenai pendidikan seks yang masih menganggap tabu
untuk dibicarakan bersama anak menjadi sebab yang harus dibenahi bersama untuk
membekali anak melawan arus globalisasi yang semakin transparan dalam berbagai
hal termasuk seksualitas.
Pendidikan seks
seharusnya menjadi bentuk kepedulian orang tua terhadap masa depan anak dalam
menjaga apa yang telah menjadi kehormatannya, terlebih bagi seorang perempuan.
Pendidikan seks menjadi penting mengingat banyaknya kasus-kasus yang terjadi
mengenai tindak kekerasan seksual terhadap anak dan remaja. Tetapi yang terjadi
di lapangan justru orang tua bersikap apatis dan tidak berperan aktif untuk
memberikan pendidikan seks sejak usia dini kepada anaknya. Mereka beranggapan
bahwa pendidikan seks akan diperoleh anak seiring berjalannya usia ketika ia
sudah dewasa nanti. Mereka seolah menyerahkan pendidikan seks kepada pihak
sekolah sebagai sumber ilmu bagi anaknya. Padahal pendidikan seks sendiri belum
diterapkan secara khusus dalam kurikulum sekolah. Kurangnya pengetahuan orang
tua terhadap kebutuhan anaknya sendiri dalam mengahadapi tuntutan zaman yang
semakin berkiblat ke arah barat menjadi faktor utama belum tersampaikannya
pendidikan seks sejak usia dini di lingkup keluarga.
Hasil penelitian yang
dikutip dari sebuah Jurnal Pemikiran Alternatif Pendidikan mengenai Pendidikan
Seks pada Usia Dini oleh Moh. Roqib menunjukkan bahwa 97,05% mahasiswa di
Yogyakarta telah kehilangan keperawanannya. Nyaris 100% atau secara matematis
bisa disepadankan dengan 10 gadis dari 11 gadis sudah tidak perawan yang
diakibatkan oleh hubungan seksual. Fakta yang sangat memprihatinkan melihat
kondisi remaja saat ini yang tengah terancam dalam mempertahankan kesucian
dirinya baik karena paksaan atau karena sama-sama suka saat melakukannya (free
sex). Hal ini menunjukkan bahwa perlunya pendidikan seks untuk diberikan
sejak usia dini guna memberikan informasi dan mengenalkan kepada anak
bagaimana ia harus menjaga dan melindungi organ tubuhnya dari orang yang
berniat jahat terhadap dirinya.
Pandangan masyarakat
sepertinya masih terlalu sempit dalam mengartikan seks yang hanya dianggap
sebagai aktivitas mesum hingga ke hal-hal yang lebih intim. Makna seks
sebenarnya menurut KBBI adalah jenis kelamin, maksudnya disini adalah jenis
kelamin yang membedakan pria dan wanita secara biologis. Namun karena kurangnya
pengetahuan para orang tua itulah yang menjadikan pendidikan seks belum
diajarkan kepada anak bahkan sebagian besar remaja pun tidak memperoleh
pengajaran tentang pendidikan seks dari keluarga terutama dari orang tuanya
sehingga mereka mendapatkan informasi yang tidak tepat bahkan cenderung
menjerumuskannya untuk melakukan apa yang mereka temukan dari informasi yang
tidak bertanggung jawab tersebut.
Para ahli di bidang
kejahatan seksual terhadap anak menyatakan bahwa aktivitas seksual pada anak
yang belum dewasa selalu memunculkan dua kemungkinan pemicu: pengalaman dan
melihat. Hal ini berarti anak-anak yang menyimpang secara seksual sering
melihat adegan seks tanpa penjelasan ilmiah yang selalu membangkitkan birahinya
dan menimbulkan kecanduan. (Andika, 2010:31).
Namun
seberapa jauh pendapat tersebut dapat dibenarkan?
Dalam sebuah
penelitian yang dikutip dari buku Bicara Seks Bersama Anak oleh Alya Andika
(2010) menyatakan bahwa dari 600 lelaki dan perempuan usia SMP ke bawah di AS,
peneliti Dr. Jennings Bryant menemukan bahwa 91% lelaki dan 82% wanita mengaku
telah menonton film porno atau yang berisi kekerasan seksual. Lebih dari 66%
lelaki dan 40% wanita dilaporkan ingin mencoba beberapa adegan seks yang telah
ditontonnya. Di antara siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut, 31%
lelaki dan 18% wanita mengaku benar-benar melakukan beberapa adegan dalam film
porno itu beberapa hari setelah menontonnya.
Senada dengan
penelitian tersebut, berdasarkan hasil survei Komisi Perlindungan Anak
Indonesia (KPAI) mencatat 62,7% remaja Indonesia tidak perawan lagi. Hasil
peneitian tahun 2008 tersebut menyebutkan bahwa dari 4.726 responden siswa
SMP/SMA di 17 kota besar menunjukkan bahwa 21,2% mengaku pernah melakukan
aborsi. (tribunnews.com)
Seks memang bagian
integral dalam kehidupan untuk mencapai kebahagiaan duniawi, tetapi ketika
keberadaanya justru menjadi candu yang merusak moral anak bangsa, perlu adanya
pembenahan bersama demi terselamatkannya masa depan mereka dari semakin
terbukanya arus globalisasi lengkap dengan dampak negatif yang diterima anak
akibat tidak adanya filtrasi dari orang tua dan pendidik di usia prasekolah.
Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada orang tua dan
pendidik usia prasekolah tentang pentingnya mengenalkan pendidikan seks beserta
bagaimana memulai komunikasi dengan anak agar mereka memperoleh informasi yang
tepat dalam menyikapi arus globalisasi yang semakin transparan dalam berbagai
hal.
Pendidikan Seks Berdasarkan Usia
Semakin transparannya
berbagai informasi yang bisa diakses lewat jaringan internet oleh setiap orang
sangat memungkinkan bagi sebagian besar anak dan remaja untuk memanfaatkannya
sebagai media penolong dalam memenuhi rasa keingintahuannya mengenai seks.
Padahal tidak semua informasi yang tersebar di internet merupakan informasi
yang tepat untuk dikonsumsi anak dan remaja yang masih rentan karena tidak
adanya filtrasi dari diri mereka sendiri untuk memilah informasi mana yang
tepat.
Pendidikan seks bisa
ditanamkan sejak dini saat anak mulai mengajukan pertanyaan mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan seksualitas. Misalnya saat anak bertanya mengapa organ
tubuh laki-laki berbeda dengan perempuan atau mengapa anak laki-laki harus
berdiri ketika buang air kecil berbeda dengan anak perempuan yang harus
jongkok. Dari pertanyaan sederhana itu, orang tua bisa memulai menanamkan
pendidikan seks mulai dari tingkat paling dasar mengenai organ tubuh dan
fungsinya. Semakin dewasa usianya orang tua dapat memberikan informasi yang
lebih lengkap sehingga mereka tidak mencari tahu sendiri informasi-informasi
yang tersebar bebas di internet tanpa adanya pembenaran yang akurat dan
bertanggung jawab.
Menurut Sigmund
Freud, pakar psikolog yang dikutip dari buku Ibu, Dari Mana Aku Lahir oleh Alya
Andika (2010), tahapan perkembangan psikoseksual yang dilalui anak terbagi
menjadi empat fase. Fase pertama adalah fase pragential, yaitu saat anak belum
menyadari fungsi dan perbedaan alat kelamin antara laki-laki dan perempuan. Masa
ini dibagi menjadi dua, yaitu masa oral (0-2 tahun) dan masa anal (2-4 tahun).
Masa oral ditandai dengan kepuasan yang diperoleh anak melalui daerah oral atau
mulut. Pada tahap ini, anak memperoleh informasi seksual melalui aktivitas
mulutnya. Pada usia 0-1 tahun bayi mendapat perasaan nikmat ketika menyusu
melalui puting susu ibunya. Sedangkan pada usia 1-2 tahun anak terlihat
cenderung antusias memasukkan apa saja yang dilihat ke dalam mulutnya.
Sementara pada masa anal, kepuasan anak didapat melalui daerah anusnya. Rasa
nikmat dirasakan melalui aktivitas yang menyangkut proses pembuangan. Mereka
cenderung berlama-lama di kamar mandi. Anak usia 2-4 tahun juga sering menahan
kencing atau buang air besar.
Fase yang kedua
disebut masa phallus, yaitu saat anak sudah mulai menyadari
perbedaan seks antara dirinya dengan temannya yang berbeda jenis kelamin.
Ketika memasuki umur 4 tahun, anak akan merasakan nikmat ketika alat kelaminnya
disentuh atau diraba. Anak pun mulai suka membandingkan alat kelamin miliknya
dengan temannya yang lain. Bahkan, pada anak laki-laki, mereka sering memegang
atau menggosokkan alat kelaminnya. Anak juga akan mengalami fase laten yang
umumnya berlangsung pada usia 6-10 tahun. Minat seksual berkembang menjadi
berbagai bentuk sublimasi dari kemampuan psikis anak. Fase ini terbagi menjadi
dua, yaitu bagian awal dan bagian akhir. Di bagian awal anak tidak lagi
memperhatikan sensasi yang dirasakan alat kelaminnya. Sedangkan dibagian akhir
anak mulai merasakannya kembali. Ini dikarenakan anak mulai beranjak mengenal
dorongan seksual dan ketertarikan pada lawan jenis.
Tetapi seringkali
orang tua tidak memahami perilaku anak ketika melakukan tahap perkembangan
psikoseksual tersebut dan menganggapnya sebagai sesuatu hal yang terkesan belum
waktunya untuk diberikan penjelasan mengenai seksualitas sehingga melewatkan
pendidikan seks untuk diajarkan sejak dini kepada anak. Sejalan dengan pendapat
Dr. Boyke Dian Nugraha, seorang ginekolog dan konsultan seks yang mengatakan
bahwa anak-anak perlu diberikan pendidikan seks sedini mungkin dengan materi
dan cara penyampaian pendidikan seks yang berbeda dengan orang dewasa, sehingga
pendidik seks yang paling baik adalah orang tua anak sendiri.
Masih menurut Boyke
dalam jurnal Perlunya Pendidikan Seks Pada Anak Sejak Usia Dini oleh
Adel Adelia menerangkan bahwa secara garis besar pendidikan seks untuk anak
dibagi ke dalam empat tahap berdasarkan usianya, yaitu usia 1-4 tahun, usia 5-7
tahun, usia 8-10 tahun dan usia 10-12 tahun. Pada usia 1-4 tahun, orang tua
disarankan untuk mulai memperkenalkan anatomi tubuh, termasuk alat genitalnya.
Kenalkan pada anak, ini mata, ini kaki, ini vagina dengan bahasa ilmiah tanpa
menggunakan istilah lain agar ketika remaja anak tidak canggung untuk
menyebutkannya. Pada usia 5-7 tahun rasa ingin tahu anak tentang aspek seksual
biasanya meningkat. Mereka akan menanyakan kenapa temannya memiliki organ-organ
yang berbeda dengan dirinya sendiri. Rasa ingin tahu itu merupakan hal yang
wajar. Karena itu, orang tua diharapkan bersikap sabar dan komunikatif,
menjelaskan hal-hal yang ingin diketahui anak. Jika anak laki-laki mengintip
teman perempuannya yang sedang buang air, itu mungkin karena ia ingin tahu.
Jangan hanya ditegur lalu ditinggalkan tanpa penjelasan. Terangkan bedanya anak
laki-laki dan perempuan. Orangtua harus dengan sabar memberikan penjelasan pada
anak.
Selanjutnya pada usia
8-10 tahun Anak sudah mampu membedakan dan mengenali hubungan sebab akibat.
Pada fase ini, orangtua sudah bisa menerangkan secara sederhana proses
reproduksi, misalnya tentang sel telur dan sperma yang jika bertemu akan
membentuk bayi. Pada usia 11-13 tahun Anak sudah mulai memasuki pubertas. Ia
mulai mengalami perubahan fisik, dan mulai tertarik pada lawan jenisnya. Ia
juga sedang giat mengeksplorasi diri. Anak perempuan, misalnya, akan mulai
mencoba-coba alat make up ibunya. Pada tahap inilah, menurut Boyke, peran orang
tua amat sangat penting untuk berusaha melakukan pengawasan lebih ketat, dengan cara menjaga komunikasi dengan anak tetap
berjalan lancar.
Seksualitas
berkembang sejak masa anak-anak, remaja, sampai dewasa. Perkembangan ini
meliputi perkembangan fisik dan psikis. Tahapan anak bermain dengan genitalnya
merupakan fase yang normal. Oleh sebab itu, dugaan bahwa anak tengah melakukan
mastrubasi merupakan pikiran yang tidak benar. Meski demikian, orang tua juga
tidak boleh membiarkan anak asyik memainkan alat kelaminnya. Sebab, hal itu
bisa menjadi kebiasaan buruk hingga anak dewasa nanti. (Faizah, 2012)
Bagaimana Memulai Komunikasi dengan Anak?
Menguasai munculnya
perasaan seksual dan pembentukkan kesadaran terhadap identitas seksual
merupakan proses yang beragam dan panjang. Hal tersebut melibatkan pembelajaran
untuk menangani perasaan-perasaan seksual (seperti gairah seksual dan daya
tarik), untuk mengembangkan bentuk-bentuk baru dari keintiman dan belajar
keterampilan untuk mengatur perilaku seksual untuk menghindari konsekuensi yang
tidak diinginkan. Identitas seksual muncul dalam konteks faktor-faktor fisik,
sosial dan budaya, dengan kebanyakan orang menempatkan kendala terhadap
perilaku seksual remaja. (Santrock, 2011:309)
Memahami besarnya
keingintahuan anak tentang perilaku seksual yang sering dilihatnya mengharuskan
adanya komunikasi yang intens antara orang tua dan anak agar informasi yang
didapatkan bisa menjadi benteng pertahanan diri bukan malah menjerumuskan masa
depan anak karena tidak mendapatkan informasi yang tepat. Pertanyaan-pertanyaan
anak yang sering diajukan merupakan bentuk tahap perkembangan anak dalam
bereksplorasi terhadap lingkungannya. Orang tua disarankan untuk tetap menjawab
pertanyaan anak tersebut dengan tenang dan sesuai dengan pemahaman anak. Karena
ketika orang tua terkihat bingung atau kaget ketika mendapatkan pertanyaan
tersebut, anak justru merasa segan untuk bertanya kembali. Dalam benaknya
terekam memori yang menyatakan bahwa dirinya telah menanyakan sesuatu yang
salah. Hal ini akan berlangsung sampai ia dewasa dan akan kesulitan untuk mulai
bertanya tentang seks terhadap orang tuanya.
Sebagai contoh
pertanyaan yang lazim ditanyakan anak usia 3-6 tahun adalah, “Ibu, dari mana
aku lahir?” Orang tua dapat menjawab, “Dari rahim Ibu, adek keluar melalui
vagina (kemaluan perempuan)”. Bila anak bertanya lebih lanjut, orang tua dapat
menjelaskan melalui buku yang benar, seperti ensiklopedia. Tunjukkan gambar
yang ada di buku dengan metode KISS (Keep Information Short and Simple).
Orang tua dapat menerangkan, “Kalau adek sudah mau keluar dari rahim Ibu,
kemaluan ibu akan melar seperti karet gelang ini.” Bila anak sudah berhenti
bertanya, tak perlu melanjutkan penjelasan. (Andika, 2010)
Pendidikan seks harus
dimulai sejak dini dan bertahap sesuai perkembangan anak. Bila hal ini
dilakukan saat beranjak dewasa mereka tidak akan mencari penjelasan dari
lingkungan sekitar yang terkadang menyesatkan. Untuk mulai menciptakan
komunikasi yang terbuka terhadap anak, orang tua bisa mendiskusikan beberapa
hal berikut ini sesuai kesepakatan, yaitu (1) cara yang santun untuk
mengungkapkan pendapat ke orang tua, (2) jam belajar anak dalam satu hari, (3)
batas waktu anak keluar malam, (4) wilayah mana saja yang menjadi privasi anak
dan orang tua, dan (5) tayangan televisi yang bisa ditonton oleh anak
berdasarkan usia. (Andika, 2010:35-36)
Pembicaraan harus
diawali dengan menaruh rasa hormat sehingga anak tidak menertawakan pertanyaan
atau kata-kata yang diucapkan. Jika orang tua memberikan contoh bagaimana
mengucapkan kata-kata “sensitif” dengan penuh hormat, maka anak meniru sikap
tersebut. Mereka tidak akan merasa malu atau tertekan untuk membicarakan
hal-hal yang masih dianggap jorok atau tabu bagi sebagian masyarakat.
Selain mengatur cara
berkomunikasi, orang tua juga dapat menyisipkan peringatan-peringatan kecil
sebagai proteksi dini bagi anak. Hal ini untuk menghindarkan si anak dari
tindakan jahat yang akan dilakukan oleh orang lain pada dirinya. Tanamkan pada
anak bahwa hanya ibu, dan ayah atau dokter saja apabila kamu sakit yang boleh
melepaskan pakaianmu, menyentuh dan memeriksa bagian pribadi tubuhmu. Jangan
mau diajak ke tempat yang sepi oleh siapapun.katakan pada anak bahwa apapun
yang dia alami, ceritakan pada ayah atau ibu. Dan yang terakhir adalah jka ada
orang yang mencoba mengancam anak, segera bertahukan ayah atau ibu karena
mereka akan melindunginya. (Andika, 2010)
Urgensi dari
pendidikan seks kepada anak adalah dengan menanamkan nilai-nilai agama yang
kuat untuk membentuk karakter anak agar ketika dewasa nanti anak memiliki bekal
yang kuat dalam dirinya untuk tidak terjerumus dalam pergaulan seks bebas.
Nilai agama sangat berperan penting sebagai dasar pemahaman anak untuk dapat
menjaga dirinya dengan baik.
Tidak disangsikan
lagi bahwa Islam tidak sekedar menganjurkan perbaikan perilaku seksual pada
dunia anak-anak, melainkan juga (dan ini palin utama) dalam kehidupan orang
dewasa. Sebab jika seorang pendidik muslim berhasil dalam menata kegiatan seksual
pada orang dewasa, hal itu akan berpengaruh terhadap pendidikan seksual pada
anak, dimana orang dewasa, secara khusus orang tua, mengajarkan kepada anak
sikap-sikap seksual yang aman atau sehat. (Yusuf, 2004:184)
Kesimpulan
Pada dasarnya,
seksualitas adalah pembelajaran jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan.
Tidak hanya itu, seksualitas berkaitan dengan segala sesuatu mengenai organ
reproduksi. Termasuk pula cara merawat kebersihan dan menjaga kesehatan organ
vital. Namun perlu dipahami, pendidikan seks berbeda dengan pengetahuan
reproduksi. Pendididkan seks bertujuan untuk mengenalkan anak tentang jenis
kelamin dan cara menjaganya baik dari sisi kesehatan dan kebersihan, keamanan,
serta keselamatan. Sementara pengetahuan reproduksi sangat berkaitan dengan
proses perkembangbiakan makhluk hidup. Reproduksi memungkinkan kelangsungan
hidup suatu spesies. Manusia, hewan, dan tumbuhan dapat berkembang biak karena
peran reproduksi.
Pendidikan seks
pendidikan mengenai kesehatan reproduksipenting diberikan lewat keluarga maupun
kurikulum sekolah. Sedini mungkin anak harus bisa menjaga dirinya sendiri.
Prinsip penting yang harus mereka ketahui adalah tidak mudah percaya pada orang
yang bau dikenal. Untuk orang yang sudah dikenal dekat pun, tekankan untuk tetap
mawas diri. Bukan berartibmengajarkan anak untuk mudah curiga pada orang lain,
namun sikap mawas diri ini akan berguna bagi pembentukkan sikap mandiri dan
teguh memegang pendirian.
Daftar Pustaka:
Andika, Alya. 2010. Ibu, Dari Mana Aku Lahir. Yogyakarta
: Pustaka Grhatama
John W. Santrock. 2011. Masa Perkembangan Anak.
Jakarta : Salemba Humanika
Madan,
Yusuf. 2004. Sex Education For Children (Panduan Islam Orang Tua dalam
Pendidikan Seks untuk Anak). Bandung : Hikmah PT Mizan Publika
Moh.
Roqib. 2008. Pendidikan Seks pada Anak Usia Dini. Jurnal Pemikiran
Alternatif Pendidikan. Vol. 13 No. 2. P3M STAIN Purwokerto.
Suparno, Paul, dkk. (2002). Reformasi Pendidikan: Sebuah Rekomendasi. Yogyakarta: Kanisius.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar